Adventure Journey

http://www.Campfire Indonesian.co.cc
 
IndeksPortalCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Suku Sunda Di TNGHS

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 18
Join date : 13.04.09
Lokasi : Indonesia Adventure

PostSubyek: Suku Sunda Di TNGHS   Wed Apr 15, 2009 2:51 am

Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan TNGHS lebih dari 250.000 jiwa. Masyarakat lokal yang ada umumnya adalah suku Sunda, yang terbagi ke dalam kelompok masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan. Untuk masyarakat kasepuhan, secara historis penyebaranya terpusat di Kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan masih memiliki susunan organisasi secara adat yang terpisah dari struktur organisasi pemerintahan.

Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat lokal adalah bahasa Sunda dan mayoritas penduduknya beragama Islam walau masih terdapat yang menganut kepercayaan lama (sunda wiwitan). Masyarakat kasepuhan di TNGHS merupakan bagian dari warisan budaya nasional. Mereka masih memegang teguh adat kebudayaan nenek moyangnya terlihat dalam keseragaman kehidupan sehari-hari, arsitektur rumah, sistem pertanian dan interaksi dengan hutan.
Untuk mencapai desa-desa tersebut dengan kendaraan umum, baik dari Jakarta atau Bogor, dibutuhkan waktu empat hingga delapan jam. Kadangkadang kita harus berjalan kaki satu atau dua jam karena kondisi jalan masih berbatu kasar.
Semangat bergotong royong masih sangat kuat di beberapa wilayah termasuk pada sistem bertani mereka. Sudah biasa masyarakat bekerjasama dalam keluarga dan tetangga apabila tenaga kerja, komoditas / bahan-bahan pertanian dan makanan tidak mencukupi.

Kehidupan sehari-hari masyarakat bergantung pada sistem pertanian tradisional. Masyarakat umumnya memanfaatkan hutan dan lahan dalam berbagai cara, yaitu seperti huma atau ladang, sawah, kebun, kebun talun dan talun. Adapun hasil utama pertanian masyarakat kasepuhan adalah padi lokal dan biasanya sebagai rasa syukur setiap selesai panen dilakukan pesta panen seren taun.
Pengetahuan dan penggunaan jenis-jenis padi lokal menunjukkan pentingnya beras sebagai bahan makanan pokok sehari-hari. Siklus penanaman secara tradisional adalah sebagai berikut: Setelah menebang hutan primer, hutan sekunder atau semak, lahan yang telah dibersihkan tersebut kemudian dijadikan huma atau ladang selama beberapa tahun. Di dataran tinggi padi ditanam sebagaimana halnya sayur-sayuran seperti : jagung, singkong ataupun kacangkacangan. Padi dipanen satu kali dalam setahun dan sayur-sayuran beberapa kali dalam setahun. Setelah panen, tergantung pada kondisi tanah, masyarakat memutuskan apakan berladang lagi atau tidak. Keputusan mereka berdasarkan pada kondisi kandungan air dalam lahan tersebut yang tergenang di atas tanah. Apabila air mencukupi maka mereka mengubah lahan tersebut menjadi sawah. Dengan demikian ekosistem alami menjadi hilang, karena sawah digarap terus menerus. Dan apabila air tidak mencukupi, maka lahan akan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak diubah menjadi jami (tanaman sekunder) untuk satu atau dua tahun. Di lahan ini padi tidak ditanam sama sekali, melainkan tanaman menahun (tanaman tahunan) yang ditanam. Setelah lahan digunakan ‘jami’, ada dua alternatif yang akan dipakai, pertama adalah meninggalkan lahan tanpa dipotong atau dibersihkan. Semak dibiarkan selama 3 - 4 tahun yang disebut ‘reuma ngora’ (semak belukar). Sedangkan semak yang dibiarkan selama lebih dari 4 tahun disebut ‘reuma kolot’ (hutan sekunder).
Pembagian ini berdasarkan pada tahapan suksesi tumbuhan. Setelah itu, lahan tertutup secara alami menjadi hutan sekunder dengan pepohonan tinggi. Jadi siklus penggunaan hutan pun telah berakhir. Cara atau alternatif yang kedua adalah menggunakan lahan untuk kebun, yaitu setelah jami dipanen. Di kebun ini tanaman menahun ditanam untuk kebutuhan sehari-hari. Buah-buahan seperti pisang, durian, anakan pohon alami dan pohon-pohon yang pertumbuhannya cepat yang digunakan untuk konstruksi rumah serta tanaman berguna seperti bambu dan rotan juga ditanam untuk kebutuhan sehari-hari.

Setelah lahan digunakan untuk berkebun selama beberapa tahun, maka pohonpohon yang ditanam menjadi tinggi dan kebun ini disebut juga kebun talun. Pada lapisan bawah dari kebun talun, terus ditanami tanaman menahun. Dengan adanya suksesi pohon-pohon tersebut, kanopi pohon menjadi tertutup dan keadaan ini disebut talun. Pada tahap ini hanya ada beberapa tanaman menahun, karena di bagian bawah menjadi gelap. Masyarakat biasanya menanam buah-buahan seperti pisang dan durian, juga menyadap air nira dari pohon kawung (aren). Pengambilan air nira ini tidak hanya untuk dikonsumsi saja tetapi juga untuk dijual ke pasar.


Masyarakat kasepuhan menggunakan dan melindungi hutan berdasarkan konsep turun-temurun seperti adanya ‘leuweung titipan’ (hutan titipan), ‘leuweung tutupan’ (hutan tutupan) dan ‘leuweung sampalan’ (hutan bukaan). Mereka masih memiliki interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya. Mereka juga mempunyai pengetahuan etnobotani dan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Mereka mengetahui lebih dari 400 jenis dan menggolongkannya berdasarkan penggunaannya seperti bahan bangunan, kayu bakar, bahan dan alat pertanian, obat-obatan, makanan, upacara adat dan lain-lain. Sejak dari dahulu hingga sekarang, pengetahuan tersebut sudah diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini jelas sekali bahwa masyarakat lokal masih mengandalkan pada tumbuhtumbuhan dari hutan. Dilemanya, dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di sekitar TNGHS baik yang masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang, saat ini penggunaan tumbuhtumbuhan dan satwa dari hutan sudah tidak sesuai dengan kondisi umum sumber daya hutan yang semakin terbatas, karena dapat mengancam keutuhan hutan dan sumber daya air masyarakat.


Untuk itu ditetapkannya pengelolaan taman nasional agar dapat mengakomodir antara kebutuhan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan TNGHS dengan menetapkan adanya pembagian zonasi. Di dalam taman nasional dibagi menjadi zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan dan zona khusus, sedangkan di luar taman nasional biasa ditetapkan sebagai zona penyangga. Dengan adanya zonasi dapat memberi kepastian bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas di zona pemanfaatan, zona khusus dan zona penyangga. Seperti pengembangan kampung-kampung yang berorientasi konservasi dengan mengadakan berbagai aktivitas konservasi seperti penanaman pohon-pohon asli yang bermanfaat, energi alternatif, ekowisata dan program ekonomi berkelanjutan.
Secara jangka pendek aktivitas di atas dapat membantu masyarakat untuk menjalakan kehidupannya tanpa menyebabkan kerusakan hutan. Sedangkan dalam jangka panjang, kegiatan pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran konservasi untuk masyarakat akan dapat menumbuhkan rasa menghargai terhadap kekayaan hutan sekitar mereka dan juga akan efektif bagi konservasi keanekaragaman hayati TNGHS di masa mendatang.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://campfireindonesian.forumotion.net
 
Suku Sunda Di TNGHS
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Tradisi Telinga Panjang Suku Dayak
» Menjelajah Wilayah Suku BADUY DALAM 7-8 November 2015 Only 175 Rb/pax
» Kata - Kata Kasar

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Adventure Journey :: Seni Dan Budaya-
Navigasi: